ALLES GAAT GOED

Waktu kecil saya punya asma yang sering kambuh. Ga boleh jajan es.
Sekarang saya alhamdulillah sudah lebih sehat dan asmanya sudah ga pernah kambuh. Jadi boleh jajan es hehe.

Waktu umur 8 tahun, saya ditinggal Papa.
Tapi saya ga ditinggal Mama juga. Dan keluarga saya (khususnya keluarga Papa) masih peduli sama saya dan adik-adik saya.

Waktu SMP, temen-temen saya pada suka beli novel. Sedangkan saya cuma bisa minjem walau kepengen juga punya tapi uang jajan terbatas. Akhirnya cuma kesampean nulis novel-novelan doang yang dibaca sama temen-temen deket haha.
Sekarang saya bisa beli buku apapun yang saya mau (yah walau masih terbatas juga range harganya), tanpa perlu cuma kepengen aja hehe.

Waktu SMA, temen-temen saya punya gadget yang oke, bisa nge-mall dan nonton film di bioskop sepulang sekolah, atau sibuk les bahasa Inggris. Saya waktu itu uang jajannya masih terbatas, dan keluarga saya bukan orang kaya, saya ga bisa mengikuti gaya hidup mereka, jadinya ya ga bisa nonton sering-sering karena ga punya uang, ga punya gadget kayak mereka juga, dan ga ikut les bahasa Inggris juga.
Sekarang, saya ga peduli apa saya punya gadget sebagus orang lain atau nggak haha. Saya bisa nonton film mana aja yang saya mau, sesering apapun. Bahasa Inggris saya juga ga jelek walau ga pernah ikut les kayak mereka hehe.

Saya nulis hal-hal di atas bukan untuk apa-apa sih.
Cuma kemarin sempet terbesit aja di pikiran (maklum, akhir tahun, udah musimnya introspeksi), betapa hidup saya sudah berubah.
Saya bukan dari keluarga yang kaya.
Saya tinggal dengan keluarga om saya dari tahun 2001, karena Papa saya meninggal dan saya memilih untuk tidak tinggal dengan Mama karena saya tidak mau merepotkan beliau.
Tidak seperti anak-anak lain yang tinggal dengan orang tuanya maka mungkin bisa meminta banyak hal ke orang tuanya.
Saya nggak.
Saya pernah juga meminta, tapi lama kelamaan saya berhenti meminta jika itu tidak berhubungan dengan hal sekolah.
Malah sekarang, saya udah lupa rasanya meminta ke orang lain.

Tapi saya bersyukur karena saya tidak dididik di keluarga dengan lingkungan yang memberi saya semua yang sama mau.
Dari dulu saya selalu dipaksa untuk memlih, lalu untuk menentukan prioritas.

Kalau saya punya uang jajan 10 ribu, saya mau makan siang atau disimpen untuk main di akhir pekan?

Sampai sekarang pun begitu.

Mau makan di tempat bergengsi atau buat beli buku?
Mau ganti handphone atau les bahasa?
Mau belanja baju atau dikasih ke Mama?

Sampai sekarang masih terbawa seperti itu.
Saya pernah dari gaji, saya cuma memegang uang 500ribu sebulan, karena saya waktu itu dalam kondisi menyicil motor dan laptop.
Tapi itu pilihan yang saya lebih suka daripada uangnya habis untuk hang out atau beli gadget yang lalu saya ganti lagi setahun kemudian.
Saya ga mau sepuluh tahun lagi saya berhitung dan merasa terlalu banyak yang saya habiskan untuk hal-hal yang tidak bisa dipunyai. Baik wujud ataupun sifatnya.
Saya mau ketika saya berhitung, saya tahu ke mana uang jerih payah saya pergi.
Karena saya ga mau bekerja dan menghasilkan uang untuk bersenang-senang.
Saya bekerja 8 jam sehari bukan agar diri saya di masa depan punya kenangan menghabiskan waktu makan di berbagai tempat atau pergi ke banyak mall.
I lost 8 hours a day and I'll damn make sure that it'll be worth it.

CONVERSATION

0 comments:

Back
to top